Selangkah Dua Langkah di Bawah Jalan Layang Blok M Antasari


Tak dapat diragukan lagi, bahwa berjalan kaki di Jakarta adalah sebuah kegiatan yang penuh perjuangan. Panasnya terik matahari, debu yang setia menemani jalan yang penuh kendaraan, asap kendaraan yang tak berhenti mengepul di udara, dan lalu lalang sepeda motor adalah beberapa alasan yang menjadikan kegiatan berjalan kaki di Jakarta tidaklah nyaman. Tak heran jika kemudian banyak yang lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi agar tidak bertemu dengan situasi tersebut.

Salah satu contoh ‘kekejaman’ bagi para pejalan kaki di Jakarta adalah pembangunan jalan layang yang memanjang di Jalan Pangeran Antasari, Jakarta Selatan. Jalan layang ini sudah dapat terlihat dari depan terminal Blok M, tetapi perubahan yang paling drastis terdapat di Jalan Prapanca – Jalan Pangeran Antasari karena di jalan tersebutlah jalur jalan layang melebar menjadi dua. Akhirnya, mau tak mau beberapa pohon yang sebelumnya mengasrikan jalan tersebut ditebang dan pejalan kaki yang menelusuri trotoarnya pun dapat terhalang pilar besar sang jalan layang. 



 Di Bawah Sang Jalan Layang

Mungkin pada akhirnya di sepanjang bawah jalan layang Jalan Pangeran Antasari tersebut akan penuh dengan bangunan komersil karena diduga jalan layang tersebut akan memperbanyak akses menuju mall besar baru dan apartemen-apartemen yang mulai terbangun di area tersebut. Namun, hal ini tetap tidak akan menyembuhkan penyakit macet dan dampaknya terhadap kualitas udara di Jakarta; tidak pula memberikan kesempatan pada pejalan kaki untuk menikmati langkah dari satu tempat ke tempat yang mungkin tidak terlalu jauh. Memang sepertinya pengguna kendaraan lebih dimanjakan di sini.

Jika kita tilik kembali, berjalan kaki sendiri sebenarnya memiliki banyak keuntungan. Selain baik untuk kebugaran raga, berjalan kaki dapat membuat kita lebih peka terhadap lingkungan sekitar karena kita tidak terkungkung di mobil yang membuat lupa kondisi di luar. Pada saat ini di sepanjang Jalan Prapanca - Pangeran Antasari masih banyak rumah tinggal yang berjejer. Terkadang dapat ditemukan pula penjual jajanan atau mbok jamu sedang mengitari komplek rumah tinggal tersebut. Beberapa di antara mereka juga dapat ditemukan sedang duduk di Taman Brawijaya—sebuah taman kecil yang berada di pinggiran Jalan Prapanca. Tak jauh itu terdapat pula pemakaman yang, menurut sang penjaga, sebagian tanahnya tergusur oleh Jalan Pangeran Antasari sendiri. Pemakaman ini tentu memberikan pemandangan yang sedikit ganjal mengingat belakang pemakaman tersebut adalah sebuah superblock yang megah. Hal-Hal seperti ini hanya dapat ditemukan ketika kita menelusuri bawah jalan layang tersebut dengan berjalan kaki.

Selain itu, berjalan kaki juga membuat ruang bertemu orang dengan beragam latar belakang, mulai dari tetangga hingga orang asing sekalipun. Hal ini memungkinkan kita untuk bersosialisasi dan melepas penat dari rutinitas kita. Dapat dikatakan, bahwa jalan seharusnya menjadi ruang hidup bagi para manusianya, termasuk menjadi ruang yang nyaman untuk berjalan kaki. Tentu hal ini akan mencapai titik ideal jika fasilitas dan situasinya mendukung. Jika hanya jalan untuk kendaraan saja yang ditambah, kapan kita akan tersadar pentingnya berjalan kaki?

 

  Oleh: Feby H. Kaluara (Mhs. Arsitektur UI)

Related Gallery Karya RumahKita.CO