Adikarya Arsitektur Tradisional Nias



Farid Gaban   oleh Farid Gaban (Yayasan Zamrud Khatulistiwa),  via Sonny Sandjaya


Jika mahasiswa arsitektur ingin belajar bangunan tahan gempa, mereka perlu belajar salah satunya dari bangunan tradisional tua Nias yang kami kunjungi dua pekan lalu.

Omo Hada

Bangunan besar itu terbuat dari kayu. Seluruhnya kayu. Lebar 9 meter, panjang 24 meter; dan titik tertinggi atapnya 24 meter dari atas tanah. Tiang fondasinya tidak ditanam ke dalam tanah melainkan diletakkan di atas batu-batu. Rumah ini dibangun tanpa paku. Tiang atapnya seperti dianyam satu sama lain membentuk kesatuan yang kokoh.

Tiang

Bangunan tradisional di Pulau Nias itu, di Kampung Hiliniwalo Mazingo, telah berumur hampir 300 tahun. Tapi, tetap berdiri tegak bahkan setelah Nias digempur gempa besar 7,9 Skala Richter pada 2005.
Hiliniwalo Mazingo hanya berjarak sekitar 20 km dari Teluk Dalam, kota pelabuhan di Nias Selatan, namun sebagian harus ditempuh dengan sepeda motor trail kami lewat jalan tanah berbatu yang sangat melelahkan. Tidak ada mobil yang bisa melewatinya. Itu sebabnya, meski mengandung warisan budaya Nias paling berharga, jarang ada turis yang berkunjung ke sini.

Fondasi depan

Sama seperti desa-desa tradisional Nias yang lain, kampung ini terletak di ketinggian bukit. Pola permukiman berbentuk "U", dengan deretan rumah sambung-menyambung menghadap ke sebuah pelataran memanjang yang berujung pada rumah terbesar. Itulah rumah kepala suku atau raja di masa lalu. Menghadap ke timur di ketinggian, rumah ini akan memperoleh cahaya matahari pertama kala pagi marak. 

Tampak depan

Orang Nias menyebut bangunan tradisional itu Omo Hada. Bangunan ini salah satu yang tertua dan dari sedikit yang terisa. Meski masih berdiri kokoh, kondisinya tidak terawat.
Pada 2000, World Monument Watch, sebuah lembaga pemantau bangunan tua yang berbasis di New York, memasukkan Omo Hada sebagai satu dari 100 bangunan tertua di seluruh dunia yang paling terancam kepunahan. Dari Indonesia hanya Omo Hada dan Pura Tanah Lot (Bali) yang disebut. Omo Hada disebut didirikan pada 1715 oleh suku Bu'ulolo (baca: Buulele). 

Lorong menuju lantai atas

"Kami tidak punya biaya untuk merawatnya," kata Sozalawa Bu'ulolo, keturunan ke-6 dari ketua suku pendiri. Keluarga Sozalawa, hanya hidup dari bertani dan berladang, menghuni rumah besar itu, yang sangat lapang.
Ada ruang besar di lantai panggung itu, yang kita harus memasukinya lewat bawah. Ruang besar itu tempat pertemuan suku. Atapnya tinggi dan nampak "anyaman" kayu tua yang kokoh. Yang paling istimewa adalah papan besar lantai panggung ini, dan tiang-tiang kayu besar yang menyangga atap dan berselang-seling dalam anyaman rumit. Siapa saja yang masuk akan merenung bagaimana semua ini disusun 300 tahun silam. Tanpa paku dan pengikat besi. Atapnya sendiri terbuat dari anyaman daun nipah.

Interior

"Kayu-kayu ini berasal dari pohon alfoa (meranti merah)," kata Sozalawa. Kayu itu masih ditanam di Nias sampai sekarang.
Tidak ada barang yang istimewa di ruang besar berlantai panggung kecuali, agak anakronistik, gitar listrik tua milik anak Sozalawa berdebelahan ceruk kayu dengan ukiran kuno di dinding. "Dulu, sebelum kakek-nenek kami masuk Kristen, ceruk itu dipakai untuk menempatkan persembahan," kata Sozalawa. Orang Nias sebelum agama Kristen masuk menganut animisme.

Dapur

Kami juga berkesempatan masuk dapur keluarga dan hanya melihat dari luar dua kamar pribadi. Ada kompor dan tumpukan kayu bakar di dapur itu yang penuh jelaga. Berkesan gelap, cahaya hanya masuk dari jendela kecil di kejauhan.
Bersama Sozalawa, pria yang ramah dan bersahaja, kami berkeliling bangunan rumah. Dari bawah, bangunan ini terasa lebih ajaib lagi. Tiang-tiang besar tidak ditanam ke dalam tanah, namun diletakkan di atas batu-batu datar. Rumah ini seperti "mengapung". Tapi, bisa tahan terhadap getaran gempa besar.

Kamar

Dilihat dari depan kita bisa menikmati ukiran dan pahatan Nias yang khas, berujung pada kepala mahluk naga dari mitologi Nias.
"Kami berharap pemerintah bisa membantu restorasi dan perawatan bangunan bersejarah ini," kata Sozalawa. Tapi, seperti Nias keseluruhan, yang termiskin di Provinsi Sumatra Utara, keluhan Sozalawa jauh dari terdengar.

Ukiran, tempat persembahan

Foto-foto lain tentang Nias dan bangunan tradisionalnya bisa dilihat di
http://www.zamrud-khatulistiwa.or.id

T
emukan Farid Gaban di Facebook:
https://www.facebook.com/fgaban?fref=ts

 
Related Gallery Karya RumahKita.CO