Komposisi Tradisi dalam Modernisasi (bisakah?)

Komposisi Tradisi dalam Modernisasi (bisakah?)

Oleh

Leta Lestari Supria (Master of Architecture, Universitas Indonesia) 

 

“Modern” and “modernity” are understood to mean “as of the present”, without reference to a particular historical time, or especially, to any particular geographical or social space, they have no fixed meaning.[1]

Kalimat tersebut memberikan penjelasan pada saya bahwa terjadi putusnya pengaruh sejarah dimasa lalu pada saat kita ingin mewujudkan keadaan yang modern. Keadaan saat ini dengan adanya modernisasi yang dianggap lebih baik daripada masa lalu membuat pembangunan modernisasi di wilayah barat khususnya menghilangkan memori sejarah yang sebenarnya sangat penting bagi keadaan di masa kini dan masa depan. Namun pertanyaan saya, apakah hal ini menjadi hal yang mutlak terjadi pada saat modernisasi dilakukan pada suatu wilayah? Tidak bisakah sejarah menjadi latar belakang utama mengapa modernisasi itu harus dilakukan sehingga apa yang akan terbentuk merupakan sebuah proses kesinambungan dari masa lalu ke masa kini? Abidin Kusno menjawab bisa.  Ia menganggap modernisme tidak hanya sekedar bentuk baru, namun lebih kepada kendaraan berpikir, sehingga kita bisa memasukkan intervesi kultural ke dalam perkembangan modernisasi yang akan dilakukan.[2] Dalam proses modernisasi di Indonesia, hal yang terjadi tidak selalu sama. Adanya perbedaan era membuat proses dan tujuan modernisasi tersebut pun berbeda pula. Bila pada era Soekarno modernisme dianggap sebuah era dimana kita membangun banyak gedung-gedung yang bersifat nasionalisme dan semangat revolusi, namun di era AMI modernisme berusaha melepaskan diri dari semangat revolusi di era terdahulunya tapi lebih kepada membuka pandangan tentang dunia luar. Adanya perbedaan pandangan tentang modernisme tersebut merupakan salah satu dampak adanya perbedaan waktu dan kondisi yang terjadi dan memberikan pengaruh pada saat itu.

Makna modernisme juga semakin berbeda bila dilihat dari tempat terjadinya modernisme tersebut. Berbeda di Indonesia, berbeda pula di Eropa. Bagi bangsa Eropa, modern merupakan keadaan dimana dominasi kapitalisme, kolonialisme, dan kaum elit sudah sangat mempengaruhi kehidupan di masa itu.[3]Sehingga bangsa Eropa menjadi cenderung tidak memasukkan unsur sejarah dan tradisinya dalam melakukan modernisme tersebut.

Pada saat menulis ini saya sebenarnya berpikir, apa yang akan terjadi bila dalam proses modernisasi tersebut, unsur tradisi tidak hanya menjadi latar belakang pemikiran modernisme yang akan dilakukan, seperti Abidin Kusno katakan sebelumnya. Lebih dari itu, tradisi menjadi unsur penting yang dikembangkan dalam mewarnai  modernisasi tersebut.Namun pada teorinya, tradisi dan modern merupakan hal yang bertentangan. Modernisasi adalah suatu transformasi total kehidupan bersama, dari yang tradisional ke arah pola-pola negara barat yang telah stabil.[4]Pengertian modern yang sangat dekat dengan sifat universal-lah yang merupakan suatu ganjalan mengapa modern dipisahkan oleh tradisi. Disaat suatu kondisi dianggap modern, nilai-nilai yang berlaku lebih luas atau universal, berbeda dengan tradisi yang biasanya memiliki keberlakuan yang lebih terbatas sehingga tidak bisa berlaku pada semua orang. Lalu tidak bisakah sebuah tradisi yang membawa karakter yang kuat tersebut diolah sedemikian rupa sehingga bisa membaur dengan sifat modern dan membentuk modernisasi yang memunculkan tradisinya?

Bila mengambil contoh sederhana, sebenarnya tradisi bisa digabungkan dengan hal modern untuk membangun modernisasi, bahkan ia menjadi unsur utama.Seperti contohnya fashion batik yang ada saat ini, banyak perancang busana yang ingin mensejajarkan batik dengan busana modern lainnya sehingga batik bisa lebih dipandang di mata dunia. Pada akhirnya yang mereka lakukan adalah mengolah batik tersebut sedemikian rupa sehingga menciptakan gaya lain yang bisa diterima secara universal.

 

 Gambar: Rancangan busana modern bertemakan batik

Dalam hal ini modernisasi yang terjadi bukan pada tradisinya (batik) namun pada busananya. Busana ini jadi memiliki nilai modern karena dirancang dengan memasukkan unsur universal. Dengan begitu busana ini bisa merepresentasikan penggabungan antara dua hal yang berbeda untuk membentuk suatu bentukan modernisasi yang baru.Dengan representasi ini kita bisa mengetahui apa makna yang ingin disampaikan dari penggabungan dua hal berbeda tersebut. Makna yang dihasilkan dari representasi busana ini adalah sikap terbukanya tradisi, dalam hal ini adalah batik, yang dengan tepat dijadikan unsur dari komposisi busana modern sehingga bisa menghasilkan formyang bersifat lebih universal.Dalam hal ini batik menjadi matter dari form tersebut. Sehingga bukan batiknya yang dirubah oleh form(busana modern) tersebut sehingga muncullah busana modern, melainkan batik itulah yang merupakan matter dari busana tersebut yang memberikan kontribusi langsung pada komposisi modernisasi yang terjadi.

Sebenarnya form dan matter merupakan dua hal yang tidak bsia dipisahkan karena setiap benda yang berwujud memiliki keduanya. [5] begitu pula dengan busana modern ini, yang menjadi penting pada akhirnya adalah tentang siapa yang dipengaruhi dan mempengaruhi. Dalam hal ini batiklah (matter) yang mempengaruhi busana modern (form) ini. Sehingga seharusnya kita tidak perlu khawatir dengan penggabungan dua hal yang berbeda karna kekhawatiran bisa merusak tradisi. Sejauh dikomposisikan dengan baik, dua hal berbeda ini akan membentuk suatu modernisasi baru tanpa meninggalkan tradisinya.

Analogi modernsisasi yang terjadi pada busana ini menjadi dasar pemikiran sebenarnya apa yang terjadi pada modernisasi bangunan arsitektur Indonesia. Seperti halnya busana, bangunan pun mengalami pengaruh modernisasi. Desain-desain bangunan modern telah banyak mengisi gambaran bangunan Indonesia. Contoh sederhananya adalah rumah tinggal. Banyak bangunan minimalis yang menjadi pilihan para keluarga sekarang demi mengejar estetika semata namun mereka kehilangan makna dari rumah tersebut. Tanpa mengembalikan rumah ke makna awalnya yaitu orientasi dan identifikasi diri.[6] Bangunan tersebut akhirnya menjadi bangunan modern tanpa makna rumah sesungguhnya.Namun hal ini tidak akan terjadi bila dalam pembangunan tersebut dimasukkan unsur tradisi yang ada pada keluarga tersebut. Proses orientasi dan identifikasi akan menghasilkan pengenalan lebih dalam apa yang sebenarnya harus ada pada dalam penciptaan modernitas yang sesuai dengan penghuni rumah tersebut.

Seperti halnya yang terjadi pada pembangunan rumah Ciganjur oleh Adi Purnomo.[7] Dalam pembangunan rumah ini secara form terlihat bahwa rumah yang terbentuk bukan tipe rumah yang bisa dikatakan dekat dengan sisi tradisi. Tidak ada ukiran-ukiran tradisional, dinding pun bermarterial bata seperti bangunan masa kini pada umumnya. Dari bentuk bangunan, sebenarnya bangunan ini sangat dekat dengan bentuk bangunan modern yang meminimalisir detil disana-sini.

 

Gambar: Rumah Ciganjur

Namun dalam pembangunan rumah ini sang penghuni bisa mengorientasikan dan mengidentifikasikan diri dengan baik, sehingga apa yang terjadi di dalam rumah tersebut merupakan sebuah gambaran keinginan dari penghuni tersebut. Adanya penyatuan tradisi dan  modern pada bangunan yang menurut saya sangat menjawab modernisasi ini, dua hal tersebut tergambar pada letak yang berbeda. Pada form yang cenderung modern terkandung unsur kehidupan yang masih sangat menggambarkan tradisi dan kebudayaan yang membentuk pola hidup keluarga ini.[8] Ruang-ruang berkumpul yang sangat menggambarkan kebiasaan penghuni rumah tersebut dibuat sangat mengakomodir kebiasaan mereka yang senang menghabiskan waktu bersama dirumah.

Modernisasi yang terjadi saat ini menurut saya tidak seharusnya menjadi alasan mengapa unsur tradisi harus ditinggalkan. Walaupun dua hal ini memiliki makna yang bertentangan satu samalain, tidakkah seharusnya kita bisa mengambil benang merah diantara keduanya dan kemudian menyatukannya yang akhirnya mungkin akan dapat membentuk suatu keadaan yang baru dan jauh lebih baik. Karena padadasarnya dua hal ini memiliki kepentingan yang sama dalam perkembangan kehidupan. Modernisasi membuat kita tau bahwa dunia berkembang ke arah yang lebih maju, sedangkan tradisi memberikan kitakarakter kuat sehingga kita memiliki landasan kuat dalam menghadapi modernisasi yang terjadi. Dalam skala yang lebih besar, tradisi juga membuat kita ingat bahwa Indonesia memiliki akar budaya yang banyak dan mempengaruhi perkembangan Indonesia sampai saat ini.

 


[1] King, D. Anthony. 2012. Non West Modernist Past.  5 Toh Tuck Link: World Scientific Publishing Co. P 29

[2] Kusno, Abidin. 2012. Non West Modernist Past. 5 Toh Tuck Link: World Scientific Publishing Co. P 89

[3]Lim, William S. W. 2012. Non West Modernist Past. 5 Toh Tuck Link: World Scientific Publishing Co. P 5

[4]Wilbert E. Moore. Ia merupakan presiden ke-56 dari Asosiasi Sosiologi Amerika. Seorang ahli sosiolog bergelar Ph. D dari Universitas Harvard.

[5]Davis, Colin. 2011. Thinking About Architecture. London: Laurence King.  P 42

[6]Norberg-Schulz, Christian. 1984. The Concept of Dwelling. New York: Electa/Rizzoli. Hal 19. Orientasi dan identifikasi merupakan 2 kata yang menjadi pengikat antara teori keeksistensian Heidegger dan genius loci Norberg-Schulz yang merupakan makna dasar rumah. Menurut Norberg-Schulz, konsep eksistensi dalam ruang merupakan hubungan dasar antara manusia dan  lingkungannya. Bagaimana cara menciptakan hubungan diantaranya adalah dengan cara manusia mengorientasikan dirinya sehingga dia mengetahui dimana keberadaannya. Dengan melakukan orientasi diri terhadap suatu hal manusia juga akan mengetahui bahwa dirinya lah yang menjadi dasar terciptanya keadaan disekelilingnya sehingga ada peran secara langsung atau pun tidak langsung yang dirasakan oleh manusia tersebut terhadap terbentuknya lingkungan yang berorientasikan dirinya sendiri itu.  Lalu manusia harus mengidentifikasi dirinya terhadap lingkungannya dengan begitu ia mengetahui bagaimana lingkungannya sehingga ia mengetahui dimana keberadaannya terhadap lingkungan disekitarnya.

[7]Purnomo, Adi. 2005. Relativitas. Jakarta: Borneo. P 103

[8]Purnomo, Adi. 2005. Relativitas. Jakarta: Borneo. P 105

Related Gallery Karya RumahKita.CO