Arsitek Untuk Siapa

Arsitek untuk Siapa?

 Oleh Robin Hartanto S.Ars

 

Setelah sempat dihantam rata oleh rasionalitas dan universalitas modernisme, pertanyaan tentang siapa dalam diskursus arsitektur sekarang ini memang mendapatkan tempat yang lebih layak. Di studio-studio perancangan di perguruan tinggi, misalnya, perkara siapa sedari awal menjadi aspek penting yang perlu digali tuntas. Pada mulanya adalah siapa, lalu muncul berjubel apa, mengapa, dan bagaimana yang siap meneror mahasiswa selama berbulan-bulan.

Maka, ketika JAT 2012—acara arsitektur kelas wahid yang diadakan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta setiap tiga tahun—kali ini mengangkat tema Architects for People (Arsitek untuk Manusia), ada banyak wacana hangat tentang siapa,yang sebetulnya siap diangkat dari kompor.

Tentu “arsitek untuk manusia” itu sendiri bukanlah pernyataan yang perlu dipertanyakan. Dari merancang kantor puluhan tingkat hingga hunian di permukiman padat, bisa dipastikan bahwa klien dan penggunanya adalah manusia. “Masak ya merancang untuk cute kitty,” canda salah seorang dosen saya.

Namun begitu, profesi arsitek selama ini, tak bisa dipungkiri, lebih banyak dinikmati segelintir manusia yang memiliki daya beli tinggi, sekalipun arsitektur adalah kebutuhan primer semua orang. Kita butuh lantai untuk berpijak, atap untuk berteduh, tembok untuk berlindung. Tetapi, siapa butuh arsitek?

Dalam rencana anggaran milik orang-orang berdompet kepepet, biaya untuk jasa arsitek seringkali menjadi prioritas akhir, yang itu pun bisa diakal-akali. Kalau perlu, cari kontraktor yang bisa merangkap desain, sekalipun desain jiplak-tempel. Yang lebih hebat lagi adalah orang-orang yang tidak mampu; mereka siap jadi arsitek merangkap kontraktor.

Sementara itu, sebetulnya ada juga arsitek-arsitek yang bersedia merendahkan hati dan komisikarena kecintaan mereka untuk berkarya, atau pun kepedulian mereka terhadap masyarakat yang bukan segelintir itu. Ada jaringan Arsitek Komunitas yang meningkatkan kualitas hunian di kampung-kampung. Ada lokakarya di berbagai universitas yang berusaha menyoroti kawasan kumuh.

Bukan berarti mereka tidak masuk ke dalam daftar arsitek bintang dalam tata surya arsitektur Indonesia. Sebutlah Yu Sing dengan agenda rumah murah; Andra Matin yang, dengar-dengar dari seorang teman, memiliki proyek-proyek bebas biaya jasa desain untuk kepentingan sosial; juga Yori Antar, dengan gerakan Rumah Asuh, yang mencoba memikirkan nasib rumah-rumah tradisional.

Apakah itu berarti JAT 2012 harus mengedepankan rancangan-rancangan yang terpinggirkan itu, lalu meminggirkan rancangan-rancangan yang selalu menjadi pusat perhatian?

Tentu tidak begitu. “Arsitek untuk manusia” bukan sekadar soal siapa kliennya. Lebih penting daripada itu, ia adalah soal keberpihakan, yang selalu ada dalam rancangan skala apa pun.

Apakah kantor puluhan lantai hanya memihak pada para pekerja berkerah saja? Apakah mal puluhan ribu meter persegi hanya mewadahi kafe-kafe untuk para pengendara mobil, tanpa memikirkan kebutuhan makan para ratusan pegawai toko? Apakah hunian mewah hanya perlu memikirkan soal kenyamanan penghuninya, tanpa perlu memikirkan dampak terhadap lingkungan sekitar?

Di pameran arsitektur internasional JAT 2012 22-28 Oktober kemarin yang diadakan di mal baru dekat Kuningan dan dibintangi oleh pavilion-pavilion ciamik dari biro-biro beken seperti DCM dan Budi Pradono, foto-foto arsitektur dengan penataan cahaya yang memukau karya Fernando Gumulya, acara-acara asyikdari berbagai komunitas lintas bidang, juga panel-panel desain yang sedap dipandang dari para pemenang IAI Awards seperti Gregorius Supie dan Aboday, ada satu panel karya dari sub-pameran “100 Arsitek Jakarta” yang menarik perhatian saya pribadi. Karya itu adalah “Berbagi House” (sebetulnya, “Rumah Berbagi” terdengar jauh lebih baik) karya Adhi Wiswakarma Desantara (AWD)—biro entah siapa, saya belum pernah dengar sebelumnya.

Ketika logika umum pemilik rumah di Jakarta sebelah mana pun hendak memagar area rumahnya sampai batas maksimal, AWD mencoba berdiskusi dengan kliennya untuk memundurkan pagar rumah yang ia rancang sekitar dua sampai tiga meter, lalu menjadikannya kebun hijau dan area terbuka. Tujuannya, untuk membuat jalan umum di depannya yang tidak seberapa lebar menjadi lebih luas.

Klien tersebut menyetujuinya. Hasilnya, kebun dan area terbuka itu dapat dinikmati orang-orang yang berlalu-lalang di gang, juga anak-anak yang bermain bola di kala senggang. Proporsi tinggi bangunan dengan lebar jalannya juga bersahabat. Ketika melihat potret rumah tersebut, saya langsung membayangkan, seandainya seluruh rumah di jalan tersebut melakukan hal serupa, jalan tersebut akan menjadi sangat “untuk manusia”.

Hal yang dilakukan AWD barangkali sederhana, dan juga bukan ide yang perlu dibesar-besarkan. Namun, untuk pameran kelas wahid bertajuk “untuk manusia” yang bermaksud memakcomblangkan profesi arsitek kepada masyarakat non-arsitek, rasanya ada yang lebih penting dan lebih efektif ketimbang menyodorkan berjubel desain bombastis.

 

Related Gallery Karya RumahKita.CO