Wah, (renderan) Desainnya Bagus!


Wah (renderan) Desainnya Bagus

"Wah desainnya bagus", mungkin menjadi kalimat yang seringkali terucap (atau saya dengar) ketika sedang menelusuri atau sekedar melihat publikasi arsitektur di berbagai media saat ini. Tetapi sebenarnya apa yang kita kagumi? Lebih tepatnya, apakah kita dapat mengalami arsitektur hanya dengan memandangi gambar di depan mata kita? Yang saat ini dominan dengan visualisasi komputer nan canggih yang disebut "renderan", bahkan terlihat seperti hasil fotografi. Menyimak publikasi arsitektur saat ini, kecenderungan untuk "mendekati realita" melalui visualisasi komputer membuat kita sulit untuk membedakannya dengan hasil fotografi. Semakin mirip dengan hasil fotografi, semakin baik karena terlihat "mirip" dengan kenyataan. Kita cenderung tenggelam dalam kesenangan, menikmati visualisasi yang semakin lama semakin mendekati kesempurnaan, dan terkadang kita tidak menyadari hal ini. Merunut pada Roland Barthes, seorang ahli linguistik dan filsafat Perancis yang seringkali berargumen "the thing that goes without saying have capacity to blind us to its own social practice" (Robbins, 1997: 9), keadaan ini perlu untuk disadari dan dicermati.

Melihat kondisi ini, terdapat setidaknya tiga konsep yang perlu ditelusuri lebih lanjut:  arsitektur sebagai sebuah institusi dalam masyarakat, desain yang selalu dikaitkan dengan arsitektur, serta beragam wujud representasi (gambar, foto, dan "renderan"). Ketiga konsep ini akan menjadi dasar bagi saya untuk mendiskusikan fenomena "dominasi renderan" ini.

0528 by Mike Johnsonhttp://www.blenderguru.com/wp-content/uploads/2009/05/mike-johnson.jpg                                                        copyright Mike Johnson


Sangat sulit untuk mendefinisikan kata arsitektur. Stan Allen (2009: xiii) melihat arsitektur sebagai sebuah praktek sosial yang terkait dengan material fisik (sebuah rumah misalnya). Selanjutnya, arsitek sebagai praktisi pada hakikatnya tidak langsung bersentuhan dengan material seperti semen dan bata untuk membuat sebuah rumah, tetapi melalui berbagai media seperti gambar atau maket. Arsitek bekerja melalui representasi yang mewakili ide dan material fisik. Proses negosiasi antara ide sang arsitek dengan keterbatasan material terjadi pada representasi yang digunakan. Sedangkan desain (design) pada akar katanya dapat berarti gambar, dan sangat terkait dengan gambar yang digunakan arsitek sejak masa Renaissance di Eropa(Forty, 2000: 136). Kata desain (gambar) dapat diartikulasikan dalam dua hal yang berbeda: sebagai sebuah media untuk berproses dan sebagai hasil dari proses tersebut (Robbins,1997). Bila kita menarik sebuah kesimpulan sementara, gambar (desain) merupakan medium representasi utama dalam proses bekerja di dalam arsitektur dan memperlihatkan  hasil  dari proses tersebut. Pertanyaannya, representasi yang seperti apa dan bagaimana representasi bekerja dalam arsitektur?

Seperti yang dikatakan sebelumnya, gambar di dalam arsitektur memiliki dua peran, sebagai medium untuk bekerja, dan sebagai media untuk memperlihatkan hasil akhir. Till (2009: 110) mengkritik bahwa kedua pengertian dari gambar ini sangat mudah tertukar. "Renderan" atau visualisasi komputer yang marak dalam berbagai publikasi arsitektur termasuk pada pengertian gambar sebagai hasil akhir, sebagai apa yang dikategorikan Lawson (2004: 35) sebagai "gambar presentasi", untuk memperlihatkan bagaimana rupa dari bangunan secara fisik. Tetapi seperti yang dikatakan sebelumnya, arsitektur merupakan sebuah proses, terdapat negosiasi antara ide dan material yang kemudian berakhir sebagai hasil desain. Gambar hasil dari visualisasi komputer sebagai hasil desain hanya memperlihatkan sebagian kecil dari keseluruhan proses tersebut. Stan Allen (2009: 75) berargumen,

http://blenderguru.com/wp-content/uploads/2009/04/viktor-fretyan8.jpg

copyright Viktor Fretyán

"Design doesn't operate exclusively on the basis of resemblance, but on the basis of abstract codes and complex instrumentality... Visualization presumes that abstraction is liability to be overcome, and attempts to bring us designer closer and closer to "reality"".

Apa yang terjadi pada saat ini merupakan ekslusifitas dari "usaha untuk mendekati realita". Penggunaan software komputer untuk bekerja di dalam tiga dimensi secara langsung, semakin dekat dengan realita fisik yang ingin dibuat, pada akhirnya semakin membuat kesempatan "mengabstraksi" semakin menghilang. Tampaknya kita perlu untuk kembali memikirkan apa yang dikatakan Allen (p.75), "Abstraction allows designer to experiment with relative freedom".

Publikasi arsitektur, yang notabene merupakan jendela bagi publik untuk melihat arsitektur lebih dalam, tampaknya cenderung menurunkan tirai yang indah. Tirai "visualisasi" yang membuat kita berhenti untuk menikmatinya dan enggan melihat ide di dalamnya. Bisa saja tirai ini digunakan karena memang publik tidak diizinkan untuk melihat banalitas yang berada di dalamnya. Tirai ini dianggap sebagai hasil akhir yang menjadi tujuan akhir, sehingga tidak jarang saya mendengar frase "yang penting renderannya bagus" dalam membuat sebuah presentasi. Apa yang perlu diperhatikan disini: gambar bukanlah tujuan akhir, tujuan dari gambar adalah komunikasi, "renderan" dalam artian ini berhenti pada mengkomunikasikan objek arsitektural secara fisik saja. Yang lebih berbahaya dari pada itu, kecanggihan dari visualisasi menciptakan ilusi seakan-akan objek arsitektur tersebut berfungsi di dalam masyarakat dengan baik. Arsitektur menjadi tidak lebih sekedar sebagai pengetahuan untuk menciptakan ilusi yang dibekukan ke dalam visualisasi. Peran representasi dalam arsitektur sebagai media untuk mengkomunikasi ide yang lebih mendalam perlu dikembalikan, bukan hanya sekedar mengkomunikasikan bentuk bangunan secara fisik dan berharap orang dapat meneropong ide di balik bentuk itu. Mungkin perlu untuk mempertimbangakan pendapat Till (p. 113) mengenai peran dari representasi arsitektur.

"What goes into the drawing, in term of ideas and techniques to represent those ideas, is different from what emerges as the matter of the architectural object...The latter role of representation is necessarily an abstraction, a process outside the temporal and social aspects of architecture as lived, and should be acknowledged as such. The drawing as instrument of production is a secondary means to and end, not the primary end.."

Pada akhirnya, banalitas dari "renderan" perlu diperhatikan kembali, Fotografi atau visualisasi komputer hanyalah ilustrasi, dan mungkin saja tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya. Keduanya memperlihatkan utopia visual yang beku, jauh dari realita sosial yang selalu mengalir dan kompleks. Eksklusifitas dari visualisasi sebagai tujuan akhir bisa saja membuat kita menjadi fokus pada keindahan secara visual, menciptakan arsitektur yang hanya indah dipandang tanpa tahu apakah kita nyaman berada didalamnya. Kalimat "Wah, desainnya bagus" sebaiknya diikuti dengan diskusi "ide apa yang berada di balik desain" tidak hanya sekedar "Wah, (renderannya) desainnya bagus" dan terjebak dalam keindahan visualnya.

 

Pustaka:

Allen, Stan. 2009. Practice: Architecture Technique + Representation. Canada: Routledge

Forty, Adrian. 2000. Words and Buildings: A Vocabulary of Modern Architecture. London: Thames and Hudson

Robbins, Edward. 1997. Why Architecs Draw. Cambridge: The MIT Press

Till, Jeremy. 2009. Architecture Depends. Cambridge: The MIT Press

 

    Oleh: Mikhael Johanes (Mhs. Master of Arch UI)

Related Gallery Karya RumahKita.CO