Manajemen Konstruksi, instrumen pengawasan yang efektif untuk menyelesaikan masalah lapangan

Manajemen Konstruksi
instrumen pengawasan yang efektif untuk menyelesaikan masalah lapangan




  Oleh: Mhd Dalang

Seringkali kita sebagai pelaksana di lapangan menghadapi situasi dimana kinerja vendor/ subkon/ mandor cenderung merugikan kita, baik dari segi kualitas pekerjaan itu sendiri, ataupun akibat yang ditimbulkan oleh ketidakberesan pekerjaan  yang mengakibatkan pekerjaan lain terhambat/ tertunda.

Coba kita perhatikan hasil pekerjaan vendor yang saya maksud:

Kusen Kusen alumunium tipe shop-front rangka horisontal ini tidak rata dengan rangka vertikal.


Pemasangan kaca yang tidak hati-hati menyebabkan luka berbentuk bulat sisik ikan.


Pekerjaan silikon yang sangat tidak rapi.


Pemotongan kaca yang tidak rapi, menimbulkan gelombang yang tampak jelas saat terpasang.

Saya punya pengalaman dengan subkon alumunium-kaca, barangkali bisa dijadikan pembelajaran buat kita. Ikuti penggalan pembicaraan berikut:
Saya: “Kapan kelarnya proyek kalau kamu 1 hari masuk 3 hari ngilang.”
Subkon: “Iya maaf pak, kemarin ada masalah di pengaturan tukang. Besok Senin ya, sekarang tanggung sudah Jum’at.”

Kejadian seperti di atas berulang beberapa kali,  membuat saya harus bersikap tegas untuk menyelamatkan proyek, apalagi setelah saya cek hasil pekerjaan dia, alamak ….. ternyata sangat mengecewakan hasilnya. Selain tidak rapi, ketebalan alumunium untuk kusen juga berbeda dengan sampel yang diajukan (yang diajukan 2 mm, yang dipasang 1,2  mm, bahkan ada yang hanya 1 mm). 

Ada beberapa alternatif yang bisa kita tempuh untuk menyelesaikan masalah ini, yaitu:
1. Dengan tegas barang yang sudah datang/ terpasang kita reject dan minta ganti material seperti sampel yang diajukan (approval material).
2. Pekerjaan kita ambil alih (take over). 
3. Pekerjaan kita teruskan sendiri, namun sisa pembayaran tidak kita bayarkan (cara menang-menangan).

Dari 3 alternatif penyelesaian tersebut, saya akan sedikit bahas item pertama dan ke dua. Alternatif nomor 3 kita abaikan karena tidak termasuk dalam prinsip-prinsip Manajemen Konstruksi.
Jika kita tempuh alternatif pertama,  sangatlah beresiko. Bisa-bisa  setelah membawa pulang barangnya, subkon tersebut tidak muncul lagi  karena telah mengantongi DP 25% (pada dasarnya saya sudah tidak percaya lagi dengan subkon tersebut). Alternatif pertama ini sebaiknya tidak kita tempuh (kecuali kita masih yakin subkon tersebut bertanggungjawab).

Akhirnya saya putuskan menempuh alternatif nomor 2, dengan tata cara:

- Pesanan alumunium 2 mm kita nyatakan batal, karena memang tidak pernah dikirim dan dipasang di lapangan.
- Kita lakukan pekerjaan remedial (pengulangan) untuk pekerjaan yang tidak rapi, dan meneruskan pekerjaan yang belum dilaksanakan,  dengan ditangani oleh subkon lain yang telah kita siapkan. 
- Biaya yang timbul untuk pekerjaan pengulangan/ perbaikan/ perapihan menjadi beban subkon pertama (dengan cara back charge/ potong sisa pembayaran).
- Penentuan harga alumunium tebal 1,2 mm (yang memang belum pernah dibuat penawarannya), kita lakukan dengan mengikuti  harga yang umum di pasaran untuk barang sejenis/ setara. Kita tidak perlu mendapatkan persetujuan harga dari subkon pertama. Setelah dikurangi DP dan biaya pekerjaan remedial, sisa pembayaran dapat kita berikan kepada subkon pertama.
- Dengan model penyelesaian di atas, tidak ada pihak yang dirugikan. Dan penyelesaian macam ini sangatlah umum dalam bidang konstruksi.

Beberapa hal yang perlu kita catat dari kasus di atas adalah,

1. Sangat penting bagi arsitek dan pelaksana untuk memahami  Manajemen Konstruksi. Contoh penyelesaian kasus di atas hanyalah salah satu bagian kecil dari prinsip-prinsip MK.

2. Seorang pelaksana harus menyiapkan beberapa vendor/ subkon/ mandor untuk 1 (satu) item pekerjaan, sehingga bila vendor atau subkon pertama bermasalah, kita dengan mudah melakukan pengambilalihan pekerjaan.

comments powered by Disqus